logo

Rabu, 12 Agustus 2020

Kendalikan Hama Wereng Coklat, Petani Banjar Diimbau Tanam Refugia

Kendalikan Hama Wereng Coklat, Petani Banjar Diimbau Tanam Refugia

Berita Banjar (harapanrakyat.com).- Dalam upaya membasmi hama wereng batang coklat, puluhan warga dari Kelompok Tani sejahtera dan Mitra Karya Lingkungan Babakan, Kelurahan Muktisari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, melakukan penyemprotan.

Dalam penyeprotan tersebut bekerjasama dengan Petrokimia Kayaku yang memfasilitasi obat pengendali hama.

Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Holtikultura (BPTPH) Jabar, yang bertugas di Langensari, Dadang, mengatakan, saat ini di lokasi tersebut populasi WBC sudah di atas ambang.

Sehingga, perlu adanya pengendalian dari para petani supaya ke depan tanaman padi mereka tidak terdampak dari wereng itu.

Menurutnya, makanan asli wereng adalah tanaman padi, apalagi inangnya ada di sana. Ketika populasinya masih di bawah ambang, masih bisa ditolelir karena ada musuh alami yang menyerangnya.

Namun ketika sudah berada di atas ambang, maka perlu adanya pengendalian dari petani dengan melakukan penyemprotan dengan racun yang direkomendasikan.

“Sebelumnya kita amati dulu tiap minggu. Ketika masih sedikit itu belum dikatakan hama. Namun bila jumlahnya sudah banyak dan menimbulkan dampak, itu baru dikatakan hama,” jelasnya kepada Koran HR, Selasa (11/8/2020).

Hasil dari pengamatan pihaknya, kata Dadang, kemudian akan merekomendasikan kapan untuk melakukan pengendalian kepada desa dan dinas agar disampaikan ke petani sebagai langkah antisipasi.

Berhasil atau tidaknya pengendalian wereng, lanjut Dadang, tergantung pada penanganan padi di usia 30-40 hari.

Pasalnya, ketika di usia tersebut wereng yang masuk turunan kedua ini mulai menyerang tanaman. Sementara dampak dari wereng batang coklat akan terlihat begitu jelas di usia 80-90 hari.

“Itu yang paling bahaya kalau WBC turunan ketiga. Untuk antisipasinya memang harus dari sekarang dengan obat yang tepat pula,” tegas Dadang.

Refugia Solusi Kendalikan Hama

Sebelum populasi WBC berada di ambang batas, Dadang mengimbau petani agar menanam refugia, tanaman berbunga yang berfungsi mengendalikan hama, di sekitar sawah meraka.

Tanaman refugia yang berbentuk bunga-bunga berwarna mencolok itu berfungsi mengalihkan perhatian predator alami wereng. Mereka akan hinggap di sekitar itu karena menganggap banyak musuh alaminya.

“Jadi, ketika di sawah werengnya meningkat, secara alami musuh wereng yang ada di refugia itu akan melawannya. Ini tentu sangat menguntungkan petani,” kata Dadang lagi.

Selain berfungsi mengendalikan hama wereng, secara estetika ketika sawah ditanami refugia akan semakin menarik perhatian.

Bagaimana tidak, bunga yang beranenka warga juga akan menambah indah lokasi sawah milik petani.

Walaupun pihaknya sejauh ini sudah menyampaikan agar petani dapat menanamnya, namun baru sedikit saja yang mengikutinya. Sehingga penanganan wereng batang coklat (WBC) belum maksimal dengan refugia.

Agar bisa lebih optimal, Dadang mengajak para petani bisa menanam berbagai jenis refugia di wilayah Langensari, umumnya di Kota Banjar.

“Sebelum lari ke bahan kimia, kita sampaikan menggunakan bahan organik dulu. Ketika sudah parah baru pakai kimia. Jadi ada prosesnya. Bagi kami, informasi begitu penting bagi petani, agar penerapan pengendalian hama itu tepat sasaran,” pungkasnya.

Hindari Varietas Padi Aromatik

PPL Kelurahan Muktisari, Lilik, juga mengatakan hal senada. Menurutnya, selain mengendalikan hama dengan refugia dan semprot kimia, petani juga dianjurkan tidak menanam varietas padi aromatik.

Jenis ini, kata Lilik, sangat disukai wereng batang coklat. Sehingga sangat rentan mendatangkan hama ini dalam jumlah banyak.

“Penanganannya memang kita harus amati populasinya, sudah di atas ambang atau belum, varietasnya jenis apa dan sebagainya. Makanya kita selalu turun mengecek kondisi di lapangan,” kata Lilik mendampingi Dadang.

Petani, lanjutnya, juga diharapkan dapat mengetahui berbagai jenis serangga yang merupakan musuh alami wereng. Sebab, ketika saat penyemprotan mereka mati akan menimbulkan kerusakan ekosistem.

Seperti halnya tomcat, laba-laba, kumbang koksi, capung jarum dan sebagainya merupakan musuh alam dari wereng.

 “Jadi ketika mereka tidak ada, maka wereng meningkat. Nah di sini perlunya kesadaran petani untuk bersama-sama mengendalikan hama dengan informasi yang tepat,” pungkasnya. (Muhafid/Koran HR)

The post Kendalikan Hama Wereng Coklat, Petani Banjar Diimbau Tanam Refugia appeared first on Harapan Rakyat Online.



close
Subscribe
end: rekat float-->