logo

Jumat, 02 Oktober 2020

Fosil Bulu Archaeopteryx Warna Hitam Mate, Berasal Dari Sayap Kiri

Fosil Bulu Archaeopteryx

Fosil bulu Archaeopteryx menjadi salah satu ikon palaentologi. Fosil bulu ini terlihat mirip dengan bulu burung zaman sekarang. Bulu tersebut tertanam pada sebuah batu yang kira-kira umurnya sekitar jutaan tahun.

Melansir dari National Geographic, fosil ini memiliki usia sekitar 150 juta tahun, termasuk dengan plumenya. Archaeopteryx merupakan nama dinosaurus dengan spesies berbulu pada tubuhnya. Perkiraan selanjutnya adalah mengetahui jenis bulu dari spesies ini.

Spesies apakah yang memiliki bulu seperti burung modern saat ini? Sebelumnya banyak pertanyaan yang berkaitan dengan kepemilikan bulu tersebut. Bahkan ada studi yang menyebutkan bahwa bulu tersebut bukan milik Archaeopteryx.

Peneliti National Gegraphic Explorer, Ryan Carney, menyebutkan bahwa bulu tersebut memang milik Archaeopteryx. Hal ini juga sudah mendapat konfirmasi dari para peneliti lainnya.

Baca Juga: Fosil Hewan Laut Gnathomortis Stadtmani, Predator Penguasa Lautan

Penelitian Fosil Bulu Archaeopteryx

Temuan fosil oleh para peneliti terbilang cukup banyak. Mulai dari kerangka bagian kepala, tubuh, gigi, atau hanya sekedar jejaknya saja. Sebuah fosil bulu yang tampak seperti bulu dari spesies burung teridentifikasi pada tahun 1861.

Para peneliti menemukan fosil ini di wilayah Jerman. Adanya penemuan ini juga memunculkan banyak teori. Hal inilah yang membuat prediksi kepemilikan bulu tersebut berbeda-beda. Bulu ini tampaknya berasal dari bagian sayap utama.

Fosil bulu Archaeopteryx memiliki penutup primer yang melapisi bagian bulu utama. Tim ilmuwan internasional dengan pimpinan dari University of South Florida melakukan analisa. Objek analisa tersebut adalah sembilan atribut bulu.

Termasuk adanya quill panjang yang berasal dari data burung modern saat ini. Para peneliti juga melakukan pemeriksaan pada tiga belas fosil kerangka Archaeopteryx. Ada tiga bagian yang mengandung penutup primer.

Para peneliti menemukan bahwa bagian permukaan atas sayap Archaeopteryx memiliki penutup utama. Permukaan sayap tersebut sama seperti bulu yang terisolasi. Ryan Carney menyebutkan bahwa ada perdebatan mengenai fosil kontroversial ini.

Para peneliti ingin mengupas lebih lanjut mengenai Archaeopteryx beserta bulunya. Jika memang berasal dari spesies Archaeopteryx, maka bulu ini berada pada bagian mana. Melalui karya ilmiah dan penggabungan teknik baru, para peneliti akhirnya menemukan jawaban.

Baca Juga: Temuan Fosil Lystrosaurus Dengan Tanda Stres Karena Hibernasi

Fosil Bulu Archaeopteryx, Benarkah Itu Miliknya?

Para peneliti menggunakan instrumen berupa mikroskop elektron khusus. Mikroskop ini memiliki kecanggihan untuk melihat objek secara detail. Dengan instrumen tersebut, peneliti menyebutkan bahwa bulu ini berasal dari bagian sayap kiri.

Apabila kembali direkonstruksi, maka hasilnya memang tepat. Sehingga hal ini lebih meyakinkan bahwa bulu tersebut adalah milik Archaeopteryx. Tidak hanya itu saja, peneliti juga menemukan adanya melanosome.

Melanosome pada fosil bulu Archaeopteryx merupakan struktur pigmen mikroskopis. Ketika rekonstruksi warna telah selesai, ternyata bulu ini memiliki warna hitam mate. Sehingga warnanya bukan hitam dan putih seperti perkiraan sebelumnya.

Baca Juga: Fosil Beruang Gua Zaman Es Terlihat Utuh Meski Tertimbun Ribuan Tahun

Studi Penelitian Bulu Archaeopteryx

Setelah fosil ini teridentifkasi, ada banyak studi penelitian yang muncul. Pada tahun 2012, Ryan Careny masih menjadi seorang mahasiswa, namun sudah memimpin studi fosil bulu ini. Ia menyebutkan bahwa Archaeopteryx memang pemilik dari bulu tersebut.

Kemudian beralih ke tahun 2013 yang mana fosil bulu Archaeopteryx masih menjadi objek penelitian. Pada penelitian tersebut mengungkap warna dan identitas bulu Archaeopteryx. Tampaknya bulu tersebut memiliki warna setengah putih dan setengah hitam.

Namun pada tahun 2014, terdapat penelitian yang menyebutkan bahwa pigmen tersebut adalah mikroba fosil. Sehingga warna dari bulu tersebut memang sepenuhnya hitam tanpa adanya pigmen putih.

Lalu pada tahun 2019, peneliti dari AS meragukan kepemilikan bulu tersebut. Ia menyebutkan bahwa bulu tersebut tidak memiliki kecocokan sama sekali dengan Archaeopteryx. Bisa saja fosil ini milik spesies lain yang memiliki bulu.

Kemudian kali ini ada penjelasan dan analisa lebih detail mengenai bulu Archaeopteryx. Sebab, perdebatan pemilik bulu ini memakan waktu sangat lama hingga bertahun-tahun.

Ryan Carney melakukan penelitian pada bagian garis tengah bulu. Garis tengah pada bagian fosil bulu tersebut semakin meyakinkan bahwa pemiliknya adalah Archaeopteryx.

Carney menelusuri data  kurva yang membahas tentang identifikasi bulu ini. Hasilnya pun memang sesuai dengan apa yang ia harapkan. Lengkungan bulu ini terlihat cocok dengan Archaeopteryx. Studi penelitian fosil bulu Archaeopteryx telah terbit dalam jurnal Scientific Rports. (R10/HR Online)

Editor:Jujang

The post Fosil Bulu Archaeopteryx Warna Hitam Mate, Berasal Dari Sayap Kiri appeared first on Harapan Rakyat Online.



close
Subscribe
end: rekat float-->