logo

Sabtu, 17 Oktober 2020

Penemuan Asam Amino di Venus, Adakah Potensi Kehidupan?

Penemuan Asam Amino di Venus

Penemuan asam amino di Venus telah para peneliti klaim sebagai penemuan paling sederhana kali ini. Asam amino tersebut adalah glisin.

Glisin adalah salah satu jenis asam amino yang terdeteksi dari 500 jenis asam amino dan termasuk 20 jenis dalam kode genetik, glisin yang paling baru dan sederhana.

Walaupun glisin dan juga asam amino lain bukanlah ciri biologis, hal tersebut termasuk beberapa material penyusun kehidupan. Nyatanya, glisin merupakan bahan yang menyusun protein.

Kemudian, glisin juga merupakan molekul organik yang pertama kali muncul pada permukaan Bumi. Dengan demikian, glisin sangat penting dalam mengembangkan protein serta senyawa biologis yang lain.

Baca Juga: Penemuan Planet Kaya Karbon dan Banyak Berlian, Apakah Layak Huni?

Penemuan Asam Amino di Venus

Para peneliti melakukan pendeteksian asam amino glisin pada atmosfer Venus tersebut dengan alat spektroskopi ALMA (Atacama Large Millimeter/Submillimeter Array).

Penemuan tersebut berada pada area garis lintang tengah, dekat dengan ekuador. Dari tempat itulah sinyal paling kuat mereka temukan, karena pada area kutub tak mereka temukan hasil yang sama.

Melansir dari Universe Today, pendeteksian atmosfer Venus tersebut menjadi salah satu kunci untuk memahami mekanisme apa yang terjadi dalam pembentukan molekul prebiotik pada atmosfer tersebut.

Atmosfer pada bagian atas planet Venus terdapat kemungkinan mengalami sebuah metode biologis yang hampir mirip dengan apa yang terjadi pada Bumi beberapa miliar tahun yang lalu. Hal tersebut peneliti ungkapkan setelah penemuan asam amino di Venus tersebut.

Penemuan Zat Fosfin pada Atmosfer Venus

Peneliti juga melaporkan tentang penemuannya terhadap zat fosfin pada atmosfer Venus. Hal ini juga menjadi penemuan yang terdeteksi lebih kuat seperti glisin pada tengah-tengah garis lintang.

Kemudian, fosfin juga menjadi tanda-tanda partikel biologis yang juga ada pada permukaan Bumi. Akan tetapi, zat tersebut juga dapat terjadi secara kimiawi, walaupun cara kimiawi tersebut harus membutuhkan energi yang sangat besar.

Selain Venus, fosfin juga terdeteksi pada atmosfer Saturnus dan juga Jupiter yang memiliki energi melimpah untuk memproduksinya.

Akan tetapi, Venus tak mempunyai energi yang ia butuhkan dalam membuat fosfin. Lalu, para peneliti yang telah menemukan fosfin tersebut harus berhati-hati terhadap penemuan asam amino di Venus.

Mereka juga meminta para peneliti yang lain untuk menjelaskan adanya fosfin tersebut tanpa mengatakan tentang kehidupan. Hingga akhirnya mereka pun meneliti kembali selama berminggu-minggu.

Kemudian, usaha mereka pun menghasilkan sebuah perspektif hipotesis dari hasil penemuan asam amino di Venus. Hal tersebut dapat mereka jelaskan jika fosfin tercipta karena adanya gunung berapi.

“Kami mempunyai hipotesis jika jumlah fosfida yang ada pada mantel akan terbawa ke permukaan melalui vulkanisme. Kemudian, akan keluar ke atmosfer dan bereaksi dengan air atau asam sulfat yang akhirnya membentuk fosfin.”

Pendeteksian fosfin tersebut menjadi latar belakang terjadinya penemuan ini. Penemuan asam amino di Venus dan juga fosfin menjadi bagian dari pertanyaan besar mengenai Venus. Apakah ada potensi kehidupan pada Venus? Apakah kedua bahan kimia ini tak memiliki hubungan dengan kehidupan?

Baca Juga: Penemuan Planet Baru Mirip Bumi di Zona Layak Huni Proxima Centauri

Kondisi Ekstrem Atmosfer Venus

Planet ini mempunyai permukaan atau atmosfer yang asam. Lalu juga mempunyai suhu yang cukup panas (sehingga mampu melelehkan pesawat luar angkasa) dan tekanannya pun menghancurkan.

Akan tetapi, jauh tinggi pada bagian atas atmosfer, sekitar 48-60 kilometer, suhunya tidak terlalu mematikan. Pada ketinggian tersebut, Venus mempunyai suhu -1 derajat Celcius hingga 93 derajat Celcius. Bahkan, hal ini akhirnya menjadikan sebuah kontroversial oleh para ilmuwan.

Sebagian memiliki pendapat jika terdapat kemungkinan bertahan hidup pada ketinggian tersebut, berkembang biak tanpa menyentuh permukaan Venus.

Fosfin sangat mudah terdegradasi, sehingga harus terus memproduksinya supaya dapat terdeteksi. Kehidupan pada ketinggian tersebut dapat menjadi salah satu sumber fosfin.

“Sirkulasi Hadley pada garis lintang bagian tengah akan mampu memberikan kondisi pendukung pada kehidupan yang paling stabil terhadap garis waktu 70-90 hari. Hal tersebut cukup untuk membentuk reproduksi kehidupan mikroba (serupa dengan Bumi).”

Penemuan asam amino di Venus yang baru ini hanya menambah ketidakpastian serta misteri yang baru oleh para peneliti terhadap Venus. Kemudian, pada makalah mereka, para ilmuwan pun memutuskan jika sel Hadley bisa bertanggung jawab dalam menyediakan rumah bagi kehidupan. (R10/HR Online)

Editor: Jujang

The post Penemuan Asam Amino di Venus, Adakah Potensi Kehidupan? appeared first on Harapan Rakyat Online.



close
Subscribe
end: rekat float-->