logo

Senin, 19 Oktober 2020

Sejarah Perfilman di Indonesia, Dulu Disebut ‘Gambar Idoep’

Sejarah perfilman di Indonesia

Sejarah perfilman di Indonesia rupanya menarik untuk diungkap. Hal ini seiring dengan ditemukannya fakta menarik tentang proses masuknya budaya nonton film di Indonesia.

Lantas apa fakta menariknya, salah satu temuan yang menarik yaitu berasal dari penelitian Neneng Ridayanti berjudul “Peranan Perfini dalam Mengembangkan Perfilman Nasional Indonesia 1950-1960”.

Menurut penelitian Neneng diatas, ia menemukan hal yang menarik dalam penelitiannya itu, salah satunya yaitu kegiatan nonton film ternyata pernah menjadi gaya hiburan modern di dalam lingkaran masyarakat Indonesia pada tahun 1900-an.

Peristiwa ini menggambarkan begitu berharganya kegiatan menonton film, bahkan seseorang yang pernah menonton film dikatakan sebagai modern.

Tentu dibalik ini semua ada sejarahnya. Artikel ini akan mencoba menguraikan penjelasan lebih lanjut tentang sejarah perfilman di Indonesia. Untuk mencegah rasa penasaran para pembaca, yuk simak lebih jauh dibawah ini.

Baca Juga: Sejarah Majalah Mangle, Media Lokal Pelestari Budaya Sunda

Sejarah Perfilman di Indonesia, Asal-usul Masyarakat Pribumi mengenal Film

Menurut Neneng Ridayanti dalam jurnal berjudul “Peranan Perfini dalam Mengembangkan Perfilman Nasional Indonesia 1950-1960” (Jurnal Sejarah Citra Lekha, Vol.2, No.1 , 2017: 22), mengungkapkan bahwa masyarakat pribumi di Hindia Belanda mulai mengenal film sejak tahun 1900-an. Mereka lebih mengenal film dengan sebutan “gambar idoep”.

Adapun sebutan ini terdapat dalam salah satu surat kabar bernama Bitang Betawi. Istilah “gambar idoep” mulai dikenal saat surat kabar tersebut memuat iklan tentang pertunjukan itu.

Menurut Neneng, film yang pertama kali ditontonkan saat itu yaitu merupakan film dokumenter. Film tersebut menceritakan tentang perkembangan pembangunan di Belanda dan menampilkan profil keluarga Kerajaan Belanda.

Sementara seiring dengan minat yang semakin tumbuh akan film di Hindia Belanda, para pengusaha film pun memulai pembuatan film yang bersifat pendokumentasian tentang Hindia Belanda pada tahun 1910.

Menurut Gunawan R, dalam majalah Prisma berjudul “Sejarah Perfilman Indonesia” (Prisma, 1990: 21), megungkapkan bahwa hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengakrabkan hubungan antara negara Belanda dengan negara jajahannya yaitu Indonesia.

Cerita Rakyat Loetoeng Kasaroeng Tahun 1926

Menurut Neneng Ridayanti (2017: 22), menyebut bahwa cerita rakyat Loetoeng Kasaroeng penah dibuat menjadi film oleh Belanda pada tahun 1926.

Bahkan kisah tersebut menjadi film pertama di Hindia yang dibuat oleh seorang Belanda bernama L. Heuveldorp dan G. Krugers. Loetoeng Kasaroeng merupakan cerita rakyat yang berasal dari wilayah Jawa Barat.

Neneng juga mengungkapkan bahwa film tersebut terbilang berhasil menarik berbagai perhatian masyarakat di Hindia Belanda saat itu.

Bahkan film ini terwujud karena dukungan besar dari Bupati Bandung bernama, Wiranatakusumah.

Adapun setelah film tersebut berhasil diproduksi, perusahaan film lain mulai banyak berdiri di Hindia Belanda.

Hal ini membuat para pengusaha-pengusaha melirik bisnis sinema berlomba-lomba mendirikan perusahaan film di berbagai kota.

Tercatat sepanjang tahun 1926 hingga 1930, ada delapan perusahaan film yang berdiri diberbagai kota Hindia Belanda.

Perusahaan-perusahaan film tersebut, antaralain bernama Java Film Company, dan Cosmos Film di Bandung, Halimoen Film, Bavatvia Motion Pictures, Nansing Film Coorporation, Tan’s Film, Prod Tan Boen Soan, dan Kruger Film Bedrijft di Batavia.

Perusahaan Film pada masa Jepang, pernah dimanfaatkan untuk Propaganda Perang

Jika pada masa kolonial Belanda menonton film menjadi budaya modern yang paling dibanggakan, berbeda hal nya dengan masa pendudukan Jepang pada tahun 1942.

Pada masa itu terdapat salah satu perusahaan film yang dimanfaatkan untuk propaganda perang oleh Jepang.

Sejarah Perfilman Zaman Jepang

Pada periode pendudukan Jepang di Indonesia, semua cabang seni dimanfaatkan untuk mendukung keberhasilan Jepang dalam memenangkan Perang Dunia Ke II.

Pemerintah Jepang dalam hal ini antaralain mendirikan Pusat Kebudayaan, yaitu pada April tahun 1943. Langkah itu dilakukan untuk mendukung usaha propaganda Jepang.

Sejak saat itulah hampir semua perusahaan film ditutup oleh pemerintah Jepang, terkeculai sebuah studio film milik Belanda bernama Multi Film.

Pemerintah Jepang segera mengubah namanya menjadi Nippon Eigasha. Jepang sangat menyadari pentingnya media film sebagai alat propaganda untuk menunjang kesuksesan dalam perang.

Salah satu propaganda film yang dilakukan Jepang yaitu memperbolehkan pribumi untuk bekerja di studi Nippon Eigasha.

Dengan syarat masuk mewajibkan karyawannya mengikuti kursus pengetahuan tentang pembuatan film dengan materi yang diberikan oleh Jepang.

Mereka pun berhasil menerbitkan film buatan jepang tersebut yang rata-rata berjenis film pendek.

Adapun film pendek yang dihasilkan antaralain berjudul, Di Desa, Di Menara, Djatoeh Berakit, Gelombang, Keris Pusaka, dan Ke Seberang.

Begitulah sepenggal sejarah perfilman di Indonesia, sebagaimana biasa tulisan ini layak dibaca untuk memenuhi pengetahuan umum tentang sejarah film di Indonesia. Semoga bermanfaat. (Erik/R8/HR Online)

Editor: Jujang

The post Sejarah Perfilman di Indonesia, Dulu Disebut ‘Gambar Idoep’ appeared first on Harapan Rakyat Online.



close
Subscribe
end: rekat float-->