logo

Selasa, 03 November 2020

Pemuda Penyintas Tumor di Banjar Olah Limbah Sampah Jadi Rupiah

Pemuda Penyintas Tumor di Banjar Olah Limbah Sampah Jadi Rupiah

Berita Banjar (harapanrakyat.com).- Seorang pemuda asal Dusun Sukamaju, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, memiliki kreativitas tinggi mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

Pemuda 22 tahun yang bernama Rano Juanda, sejak kecil memang sudah hobi melakukan uji coba untuk menghasilkan sebuah karya dari bahan-bahan yang ada di sekitar.

Saat Koran HR menyambangi kediamannya, Selasa (03/11/2020), Rano menuturkan kemampuan dirinya mengolah limbah. Semuanya dilakukan otodidak tanpa adanya bantuan dari orang lain, maupun turorial yang ada di internet.

“Dari kecil saya sudah mengulik daun kering, kulit jagung, bungkus kopi. Kemudian saat sekolah MTs ada bimbingan dari guru, dan saat itu merupakan momen pertama hasil karya saya terjual ke orang Yogya,” tuturnya.

Saat ini, Rano memiliki kesibukan membuat berbagai kerajinan dari limbah, seperti tempat sampah dari tutup botol, tempat gelas dari anyaman bibir gelas air mineral, tempat tisu dari koran dan lainnya.

Selain itu, ia juga mengajar di 3 sekolah serta kerap memberikan pelatihan di berbagai tempat, baik wilayah Kota Banjar maupun Kabupaten Ciamis.

Bahkan, ia sempat melatih di Jakarta, Bekasi, Tasikmalaya, dan wilayah lainnya.

Tak hanya itu, kelas online juga ia tawarkan kepada siapa saja yang ingin belajar membuat aneka kerajinan dari limbah.

Kewalahan Menerima Pesanan

Lantaran banyaknya perminataan dari konsumen dan kondisi pembuat kerajinannya terbatas, Rano pun mengaku kewalahan.

Apalagi remaja-remaja dari tetangga desanya itu semangatnya naik turun. Hal ini sangat berpengaruh terhadap produktivitas.

Meski begitu, ia tetap membuat sendiri produk pesanannya itu. Selain masalah SDM yang terbatas, bahan-bahan untuk kerajinan tersebut juga cukup mendapatkannya, meski bahannya dari limbah.

“Saya sering ke tukang rongsok cari barang yang sesuai, namun masih sedikit. Pernah saya buat bank sampah, tapi malah warga tidak ada yang setor, jadi terpaksa cari sendiri,” imbuhnya.

Supaya mempercepat mendapatkan bahan-bahan, terkadang ia memposting pada akun Facebook miliknya.

Respon dari teman-teman yang ada begitu antusias, namun dari luar wilayah desanya.

“Memang banyaknya dari luar sini sih barangnya. Ya itu kondisinya memang sudah demikian, dan ini perlu dorongan dari pemerintah setempat,” kata Rano.

Untuk penjualannya pun ia hanya mengandalkan Facebook dan belum merambah ke marketplace lantaran keterbatasan SDM.

Bangkit Paska Melawan Tumor

Perjalanan menekuni bidang tersebut tak selalu mulus. Rano mengaku pada 2011 mendapatkan vonis dari dokter terkena tumor pembuluh darah, dan tahun 2012 kambuh setelah operasi.

Ketika 2016, tumornya semakin membesar, bahkan hampir sampai ke otak. Karena medis tak merekomendasikan untuk operasi, hingga akhirnya menggunakan alternatif radioterapi.

“Dampaknya ya ini, gigi saya habis dan dulu rambut saya rontok. Makanya kalau manggil saya mengisi pelatihan makanannya beda, karena kondisinya begini,” terangnya.

Dalam kondisi pemulihan setelah menjalani pengobatan tahun 2016 itu, ia berpikir tak mau menyerah begitu saja dan menyalurkan hobi membuat kerajinan.

Berkat ketekunannya itu, dari modal yang dulu hanya Rp 20 ribu, kini omset tiap bulan tembus mulai Rp 3 juta hingga Rp 5 jutaan.

“Kalau ukuran normalnya sekitar 2 jutaan. Alhamdulillah, dari keyakinan dulu berniat untuk bangkit, kini sudah bisa menikmati hasilnya. Bahkan saya kuliah dari hasil ini hingga semester 7,” kata Rano.

Perlu Dorongan Pemerintah

Meskipun hanya memanfaatkan limbah sampah non-organik, namun Rano mengaku kesulitan untuk mendapatkannya.

Karena itulah ia berharap agar ada dorongan dari pemerintah supaya membantu menggerakkan warga agar bisa memanfaatkan sampah itu dengan memilahnya.

Sehingga nantinya menjadi lebih mudah untuk pemanfaatannya.

Ateng, ayah Rano, mengaku bangga dengan ketekunan anaknya dalam membuat berbagai kerajinan tangan, setelah beberapa tahun lalu sempat terhenti karena penyakit tumornya.

“Saya tak kebayang dari seperti anak saya ini bisa sampai kuliah dari jerih payahnya sendiri. Apalagi saya yang hanya seorang kuli bangunan, bahkan sudah 1 bulan ini tidak ada pekerjaan,” tutur Ateng. Ia pun berharap, apa yang menjadi keinginan anaknya mendapatkan bahan-bahan kerajinan menjadi lebih mudah didapat. (Muhafid/Koran HR)

The post Pemuda Penyintas Tumor di Banjar Olah Limbah Sampah Jadi Rupiah appeared first on Harapan Rakyat Online.



close
Subscribe
end: rekat float-->