logo

Jumat, 06 November 2020

Sejarah Resolusi Jihad, Peran Ulama Pesantren Berperang Lawan Penjajah

Sejarah Resolusi Jihad di Indonesia

Banyak pendapat sejarahwan menyebut dalam sejarah resolusi jihad ini, terdapat kisah peran tokoh ulama pesantren melawan penjajah dengan berperang. Bermula Perang Dunia II terjadi dan Jepang menguasai Hindia Belanda. Ulama terus berijtihad supaya kemerdekaan RI segera terwujud.

Para ulama pesantren pintar memanfaatkan kelemahan Jepang yang tengah terjepit oleh Sekutu. Mereka mencoba membangun persiapan  menyongsong kemerdekaan dengan berbagai cara. Jepang langsung memahami bahwa kalangan Islam sangat penting dan strategis. Kemudian Jepang berupaya merangkul orang-orang Islam saat itu.

Dari sinilah lahir sebuah laskar bersenjata umat Islam bernama Hizbullah. Tujuannya untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan mempertahankan kesatuan bangsa.

Sejarah Resolusi Jihad, Pengertian Jihad menurut Ulama

Fauzi dalam jurnal berjudul “Transkulturasi  Social Capital Pesantren; Sebagai  Paradigma Pendidikan Islam Moderat”, mengungkapkan tanggal  22 Oktober 1945 merupakan penetapan resolusi jihad oleh santri-ulama pondok pesantren dari berbagai provinsi. Mereka berkumpul di Surabaya.

Para ulama dan santri menyebut resolusi jihad ini sebagai jawaban dari para tokoh ulama pesantren berasarkan atas dalil agama Islam. Dalil itu sebuah seruan yang mewajibkan setiap muslim untuk membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah. Resolusi jihad ini memerintahkan umat Islam untuk membela bangsa dan negara.

Dengan membawa fatwa jihad dalam resolusi jihad tersebut, para pejuang pantang mundur  mengusir kedatangan kolonial. Resolusi jihad memberikan semangat kepada seluruh kekuatan bangsa untuk membela NKRI. Ketika pertempuran 10 November berkecamuk, laskar ulama santri dari berbagai daerah berada di garda terdepan pertempuran.

Dalam Sejarah Resolusi Jihad, para pejuang berkobar perang mati-matian. Seperti para santri dan ulama Semarang memenangkan pertempuran Sabil Palagan Ambarawa. Para santri dan ulama juga terus melakukan pertempuran mempertahankan daerahnya.

Presiden Soekarno meminta Izin KH Asy’ari mengeluarkan Fatwa Halal Berperang

Jauh sebelum resolusi jihad lahir, Presiden Soekarno menjadi orang yang menginisiasi lahirnya fatwa halal untuk berperang ini. Peristiwa ini terjadi ketika Soekarno melihat pertempuran yang sedang berkecamuk pada wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Melihat situasi itu, dari Jakarta Presiden Soekarno mengutus seseorang dari Istana untuk menghadap KH Hasyim Asy,ari. Ia adalah seorang kyai yang masyhur di Jatim. Ia juga sebagai Rais Akbar Organisasi NU (Nahdlatul Ulama).

Tujuannya fatwa kepada KH Hasyim Asy’ari dan bertanya mengenai hukum membela tanah air. Melalui utusannya itu pula Soekarno bertanya kepada KH Hasyim Asy’ari sebagai berikut:

“Apakah hukumnya membela tanah air, bukan membela Allah, membela Islam atau membela Al-Qur’an. Sekali lagi, membela Tanah Air?”.   

KH Hasyim Asy’ari, Sang Kyai yang Mengeluarkan Izin Resolusi Jihad

Sejarah Resolusi Jihad tak terlepas dari peran KH Hasyim Asy’ari. Bustami dalam bukunya berjudul Resolusi Jihad” (2015: 142), mengungkapkan KH Hasyim Asy’ari merupakan kyai yang mengeluarkan izin resolusi jihad ketika perang melawan sekutu terjadi.

KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa yang substansi penolakan kembalinya kekuasaan kolonial. Dan mengakui kekuasaan Republik Indonesia yang baru merdeka sesuai dengan hukum Islam.

KH Hasyim Asy’ari berinisiatif menggelar rapat konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura. Rapat ini untuk mengeluarkan fatwa tentang perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya melawan pihak Belanda yang anti kemerdekaan. Sementara Bizawie dalam bukunya “Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad” (2014: 205), menyebutkan seruan resolusi jihad NU ini tak terlepas dari peristiwa rapat fatwa itu.

Baca Juga: Sejarah Tionghoa di Indonesia, Gemar Beramal Sampai Ketagihan Berjudi

Adapun Resolusi Jihad itu berisi usulan yang intinya, hukumnya perang melawan orang kafir yang menghalangi kemerdekaan adalah wajib. Orang yang meninggal dunia saat berperang melawan NICA adalah mati Syahid. Dan orang yang memecah belah persatuan Indonesia wajib membunuhnya.

Begitulah sepenggal tentang sejarah Resolusi Jihad. Sebagaimana biasa ini untuk memaparkan sejarah Kyai dalam masa revolusi Indonesia. (Erik/R9/HR-Online)

Editor: Dadang

The post Sejarah Resolusi Jihad, Peran Ulama Pesantren Berperang Lawan Penjajah appeared first on Harapan Rakyat Online.



close
Subscribe
end: rekat float-->